News Mamasa — Nama Demmatande kian nyaring disebut di Sulawesi Barat. Pejuang asal Kampung Paladan, Kecamatan Sesena Padang, ini memimpin perlawanan rakyat pegunungan Pitu Ulunna Salu terhadap kolonial Belanda. Pusat pertahanan mereka dikenal sebagai Benteng Salubanga (Salu Banga)—tapak sejarah yang masih menjadi saksi keteguhan warga Mamasa hingga kini.

Sejumlah catatan menyebut, Demmatande membangun Benteng Salubanga sebagai respon atas tekanan dan kerja paksa kolonial yang menimpa rakyat. Benteng di Paladan itu menjadi basis logistik, tempat konsolidasi, dan pos pantau untuk menghadang serbuan. Perlawanan memuncak pada tahun 1914, ketika pasukan Belanda melakukan operasi besar-besaran ke wilayah Mamasa.
Baca Juga : Light Up The Dream Wujudkan Mimpi Masyarakat, YBM dan PLN Mamasa Berbagi Listrik Gratis
Benteng Salubanga bukan sekadar dinding pertahanan—ia adalah ruang kebersamaan. Warga, pemuda, dan tetua adat menyatukan tenaga: memasok bahan pangan, menyiapkan parit, serta menata strategi gerilya di jalur perbukitan. Dalam narasi lokal, Demmatande memilih “melawan ketimbang berkompromi”, menjadikan benteng ini simbol martabat dan harga diri orang Mamasa.
Tahun-Tahun Genting dan Gugurnya Pahlawan
Berbagai sumber lokal menggambarkan rangkaian bentrokan sengit di sekitar Paladan pada 1914. Di tengah keterbatasan senjata, taktik medan—memanfaatkan tebing, sungai, dan rimbun hutan—menjadi kunci bertahan. Pada fase inilah Demmatande diyakini gugur bersama laskar setianya, menjadikan Benteng Salubanga sebagai monumen pengorbanan.
Ingatan kolektif atas tragedi itu bertahan lewat cerita lisan, naskah, hingga tembang berbahasa daerah yang menyebut “Benteng Salubanga, nenek Demmatande”—penanda kuatnya figur pejuang ini dalam budaya tutur Mamasa.
Verifikasi Sejarah dan Jalan Menuju Pahlawan Nasional
Pada 2025, upaya verifikasi lapangan makin intens. Tim provinsi dan pusat menelusuri makam Demmatande serta situs Benteng Salubanga untuk menguatkan dokumen pengusulan gelar Pahlawan Nasional. Kunjungan itu menegaskan posisi benteng sebagai lokasi strategis pertahanan rakyat Mamasa pada masa kolonial. Di tingkat daerah, Demmatande juga dilaporkan masuk 10 besar calon pahlawan nasional kategori perintis kemerdekaan.
Langkah ini mempertemukan riset akademik, arsip kolonial, dan memori komunitas. Tujuannya jelas: menyusun narasi sejarah yang tervalidasi, sekaligus mengembalikan Demmatande ke panggung nasional sebagai simbol resiliensi Sulbar.
Preservasi Situs dan Literasi Sejarah Lokal
Benteng Salubanga hari ini menjadi ruang belajar terbuka. Komunitas, pegiat budaya, dan sekolah memanfaatkannya untuk tur sejarah, diskusi, hingga karya fotografi. Semangatnya: menautkan generasi muda dengan jejak perjuangan agar tidak sekadar hafal nama, melainkan paham konteks—mengapa benteng dibangun, siapa yang bertahan, dan apa yang dipertaruhkan.
Pelestarian situs dan penetapan Demmatande sebagai pahlawan akan menguatkan identitas Mamasa, mendorong wisata sejarah yang bermartabat, serta memperkaya narasi kemerdekaan Indonesia dari perspektif pegunungan Sulawesi Barat.










