TAPANULI UTARA – Warga Desa Garoga masih terpukul setelah banjir bandang besar yang disebut sebagai “tsunami kayu” menghantam pemukiman dan fasilitas umum dalam hitungan menit. Peristiwa tersebut terjadi akibat hujan deras berkepanjangan yang mengguyur wilayah perbukitan di Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Tokoh adat Garoga, yang berada di lokasi saat bencana terjadi, memberikan kesaksian tentang detik-detik kehancuran desa mereka. Ia menceritakan bagaimana aliran air yang awalnya kecil tiba-tiba berubah menjadi arus besar penuh potongan kayu gelondongan, batang pohon, dan lumpur pekat.
Detik-Detik “Tsunami Kayu” Datang
Menurut tokoh adat, suara gemuruh terdengar lebih dulu dari arah hutan di bagian atas desa. Warga awalnya mengira itu suara angin kencang, namun hanya beberapa menit kemudian arus deras muncul membawa material kayu dalam jumlah besar.
“Air datang bukan seperti banjir biasa, tapi seperti tembok besar. Kayu-kayu panjang ikut menghantam rumah,” ujarnya. Arus deras langsung menyeret kandang ternak, jembatan kecil, dan beberapa bangunan yang berada dekat aliran sungai.
Ia menambahkan bahwa warga hanya punya waktu beberapa detik untuk menyelamatkan diri. Banyak yang berlari ke lokasi lebih tinggi sambil berteriak memperingatkan orang lain. Situasi menjadi gelap karena lumpur dan ranting-ranting yang menutup pandangan.
Rumah dan Lahan Terendam Material Kayu
Pasca kejadian, puluhan rumah dilaporkan rusak berat. Banyak yang tertimbun susunan kayu gelondongan yang terbawa dari kawasan hutan di hulu. Sebagian lahan pertanian juga tertutup lapisan lumpur padat setebal lebih dari satu meter.
Warga yang selamat bergotong-royong menyingkirkan kayu dan material longsor. Alat berat dari pemerintah daerah sudah dikerahkan, namun proses pembersihan diperkirakan memakan waktu cukup lama mengingat jumlah kayu yang sangat besar.
“Ini bukan banjir biasa. Ini seperti ombak raksasa yang membawa hutan,” ujar tokoh adat Garoga menggambarkan kondisi tersebut.
Penyebab Terjadinya Banjir Bandang
BPBD setempat menjelaskan bahwa hujan berintensitas tinggi selama beberapa hari menyebabkan debit sungai naik tajam. Selain itu, kondisi hutan di bagian hulu yang mengalami penurunan tutupan vegetasi diduga memperparah volume material kayu yang ikut terbawa.
Tim gabungan kini menelusuri kawasan perbukitan untuk memastikan apakah ada longsor besar yang menjadi pemicu runtuhnya pohon-pohon tersebut.
Evakuasi dan Penanganan Darurat
Tim SAR gabungan, bersama aparat desa dan relawan, mendirikan posko darurat untuk menampung warga yang rumahnya rusak. Bantuan makanan, selimut, serta perlengkapan medis sudah mulai berdatangan.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas. Pembersihan jalur sungai, pencarian korban, serta pendataan kerusakan masih terus berlangsung.
“Kami minta warga tetap waspada karena hujan masih berpotensi turun,” kata salah satu pejabat BPBD.
Harapan Warga Garoga Usai Bencana
Tokoh adat Garoga berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi lingkungan hulu sungai. Ia menilai perlu ada langkah pemulihan hutan agar kejadian “tsunami kayu” tidak terulang.
Warga juga meminta percepatan bantuan untuk perbaikan rumah dan fasilitas umum, baik berupa material bangunan maupun dukungan logistik.
Bagi masyarakat Garoga, bencana ini menjadi pengingat penting tentang rapuhnya kondisi alam ketika keseimbangan lingkungan terganggu.









