,

Kisah Lusiana Lembang 22 Tahun Mengajar di Pelosok, Jalan Setapak dan Susah Sinyal

by -542 Views
cek disini

News Mamasa – Menjadi guru di daerah terpencil bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini dirasakan langsung oleh Lusiana Lembang, seorang pendidik yang telah mendedikasikan hidupnya selama 22 tahun untuk mengajar di pelosok desa. Lokasi sekolah tempat ia mengabdi hanya bisa ditempuh melalui jalan setapak dan jauh dari akses sinyal internet.

Lewat Pameran Temporer, Disbudpar Perkenalkan Batik Toraja Sebagai Batik Tertua Nusantara - Tribuntoraja.com
Kisah Lusiana Lembang 22 Tahun Mengajar di Pelosok, Jalan Setapak dan Susah Sinyal

Meski penuh keterbatasan, semangat Lusiana tidak pernah padam. Ia percaya pendidikan adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan di daerah pedalaman.

Baca Juga : Gibran Rakabuming Tak Hadiri Pelantikan Menteri, Kemana

Tantangan di Lapangan

Setiap hari Lusiana harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer untuk mencapai sekolah. Jalan yang dilalui tidak jarang licin dan berlumpur, terutama saat musim hujan. Selain itu, minimnya akses transportasi membuat perjalanan semakin berat.

Keterbatasan sinyal juga menjadi masalah besar. Guru dan murid sulit mengakses bahan ajar digital maupun melakukan komunikasi jarak jauh. Namun, kondisi tersebut tidak menghalangi Lusiana untuk tetap berinovasi dengan memanfaatkan bahan ajar sederhana yang bisa ditemukan di sekitar.

“Bagi kami di sini, papan tulis dan kapur adalah harta yang sangat berharga. Internet hampir tidak pernah ada. Tapi itu tidak menghentikan kami untuk belajar,” ungkap Lusiana.

Inspirasi bagi Murid dan Masyarakat

Selama dua dekade lebih mengajar, Lusiana telah melihat banyak muridnya berhasil melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Ada yang menjadi tenaga kesehatan, aparat desa, hingga guru baru di daerah sekitar.

Keberhasilan murid-muridnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Lusiana. Ia merasa perjuangan menembus keterbatasan membuahkan hasil yang nyata bagi masa depan generasi muda di pedalaman.

“Setiap anak di pelosok punya mimpi yang sama dengan anak-anak di kota. Tugas saya adalah menjaga agar mimpi itu tidak padam,” tambahnya.

Dukungan Pemerintah Masih Terbatas

Meski kisah Lusiana penuh inspirasi, kondisi para guru pelosok masih membutuhkan perhatian lebih. Banyak guru yang harus berjuang sendiri dengan fasilitas seadanya. Pemerintah sebenarnya memiliki program peningkatan kualitas pendidikan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), namun implementasinya masih jauh dari optimal.

Lusiana berharap ke depan ada perbaikan infrastruktur, terutama jalan dan jaringan komunikasi, agar proses belajar mengajar bisa lebih efektif.

Pendidikan Adalah Cahaya

Kisah Lusiana Lembang menjadi saksi nyata bahwa pendidikan adalah cahaya bagi anak-anak bangsa, bahkan di pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Dedikasi para guru seperti Lusiana adalah fondasi penting dalam membangun masa depan Indonesia.

Meski jalan yang ditempuh penuh rintangan, semangat dan pengorbanan mereka adalah bukti bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal fasilitas, melainkan juga ketulusan hati.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.