News Mamasa — Bencana longsor melanda wilayah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, dan menyebabkan jalan penghubung antar desa putus total. Akibatnya, ratusan warga di dua desa harus terisolir dan mengalami kesulitan akses transportasi maupun distribusi logistik.

Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan Mamasa sejak Jumat malam. Material longsor berupa tanah, batu, dan pepohonan menutup badan jalan sehingga kendaraan tidak bisa melintas.
Baca Juga : Diduga Manipulasi Administrasi Pembebasan Lahan Pasar Rakyat, Eks Kadis Perkim Mamasa Jadi Tersangka
Dua Desa Terisolir
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamasa, longsor tersebut mengisolasi Desa Tondok Bakaru dan Desa Rantepuang. Sekitar 500 jiwa warga setempat kini kesulitan mengakses fasilitas umum, termasuk pasar, sekolah, hingga layanan kesehatan.
Seorang warga mengaku terpaksa berjalan kaki lebih dari 5 kilometer untuk mendapatkan kebutuhan pokok. “Kami berharap pemerintah segera membuka akses jalan, karena kondisi semakin sulit,” ujar salah satu warga.
Respons Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Mamasa bersama BPBD telah menurunkan alat berat untuk membersihkan material longsor. Namun, proses evakuasi terhambat cuaca yang masih tidak menentu dan kondisi tanah yang labil.
“Tim gabungan dari BPBD, TNI, dan Polri sudah dikerahkan. Prioritas kami membuka akses jalan agar warga tidak lagi terisolir,” kata Kepala BPBD Mamasa.
Selain itu, pemerintah daerah juga mulai menyalurkan bantuan logistik berupa beras, mie instan, dan air bersih kepada warga terdampak.
Potensi Longsor Susulan
BMKG mengingatkan bahwa curah hujan di wilayah Mamasa masih berpotensi tinggi dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi longsor susulan.
“Topografi Mamasa yang berbukit membuat risiko longsor cukup tinggi, terutama saat musim hujan,” jelas peringatan BMKG wilayah Sulbar.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Selain menghambat aktivitas warga, longsor ini juga berdampak pada roda perekonomian lokal. Distribusi hasil pertanian dari desa menuju pasar kabupaten terhenti total, menyebabkan kerugian bagi petani.
Sementara itu, anak-anak sekolah di desa terdampak terpaksa diliburkan sementara hingga akses jalan kembali normal.
Kesimpulan
Longsor di Mamasa yang memutus akses jalan utama dan mengisolasi dua desa menjadi peringatan penting tentang kerentanan wilayah terhadap bencana alam. Pemerintah daerah berupaya melakukan penanganan cepat, namun kondisi cuaca menjadi tantangan utama. Warga berharap akses jalan segera dipulihkan agar aktivitas sosial dan ekonomi dapat kembali normal.









